Inspirasi

Jadilah yang pertama melayani Pasar

Source : FB Saiful islam

Mingu kemarin iseng nganterin keluarga main ke Kota Batu. Pengennya ngadem bentar soalnya besoknya udah balik ke Madiun, tempat yang cukup ‘hangat’ bagi kami yang dari kecil terbiasa dengan suasana dingin kota Malang yang sejuk.

Kali ini tujuan kami ke tempat wisata yg ‘anti mainstream’. Soalnya jaman kekinian sekarang kalo main ke Kota Batu itu orang mindsetnya kalo gak ke Jatim Park, Secret Zoo, Museum Angkut ya ke BNS.

Udah jarang lagi ke tempat wisata-wisata yang sangat kesohor di jamannya seperti Songgoriti, Selekta atau Cangar yang sekarang udah gak gaul itu. Tidak ‘Instagrammable’ kata anak-anak kekinian.

Akhirnya tempat anti-mainstream yang kami pilih adalah Songgoriti, kalo orang Malang lawas pasti kenal dengan tempat wisata ini. Sudah lupa berapa tahun Sy terakhir menjejakkan kaki kesini.

Ada sekitar 8 atau 10 tahunan yang lalu kali ya. Tiket gak mahal, dibanding wahana kekinian sebelah. Kalo ditempat sebelah dapat satu tiket, disini bisa buat sekeluarga 8 orang. He he..

Setelah kami serahkan karcis ke penjaga, kami segera melewati gerbang dan langsung melihat dan mengamati apa yang berubah dengan tempat ini setalah lamaaa sekali tidak kami kunjungi.

Kesan kami pertama setelah masuk kesini adalah.. tidak ada yang berubah dengan waktu pertama kali kami masuk dulu.. teteeep… jelek. Wkwkwk.. becanda ah…

Bagus koq Songgoriti ini.. dulu tapi..pada jamannya sebelum ada pembandingnya..wahana-wahana tetangga.

He he..maaf ya bukan bermaksud menyindir atau apa. Kalau lihat kualitas JatimPark group yang sebegitu bagusnya, mbok ya.. kebantingnya jangan jauh-jauh gitu.
Kalau saja ada orang wahana sebelah yang bisa ‘dibajak’ buat memperbaiki kualitas obyek wisata milik pemerintah ini.

Biar bisa bersaing gitu.. kan kalo obyek wisata pemerintah melesat omsetnya yang untung kan balik lagi masyarakat. Ahh sudahlah..kembali ke laptop

Meskipun secara fasilitas dan tampilan tidak sebagus tetangga2nya, tempat wisata ini kalo menurut Saya lebih seger dan lebih hijau lah… banyak pohon-pohonan hijau, tanam-tanaman hijau.. rumput-rumputnya.. jadi lebih segerr.

Bahkan kolam-kolamya juga hijau, kelihatan kalo lumutnya juga tumbuh subur he he. Mungkin itu sisi positif yang bisa sy nikmati.. selain hijau.. tiket murah..makanan juga masih murah..tempat ini juga tempat yang indah buat merefresh kenangan masa kecil kita.

Ehhh ada lagi ding satu lagi yang bikin Sy takjub pas main ke tempat ini kemarin. Saya ketemu ‘guru marketing’ yang inspiring. Ada pelajaran yang sangat berharga yang Insya Allah sangat bermanfaat buat mereka yang lagi semangat ngembangin bisnis-bisnisnya.

Gilaa ketemu siapa Mas disana? Renald Kasali? Hermawan Kertajaya? atau Coach Indrawan? Bukan..bukan dan bukan.

Saya ketemu Bapak-bapak penjual bakso yang mengajarkan sebuah ilmu bisnis pada Saya.
Haiyaahhh..tukang bakso mah dimana-mana juga ada Mas.

Tiap hari tanpa kita undang pun mereka juga muter-muter komplek. Bukan ilmu bisnis yang kita dapat, tapi lemak dan kolesterol yang nambah hiks..

Tapi ada yang keren dengan tukang bakso disini. Bukan berarti dia pake jas pake dasi gitu ya. Maksud Saya cara dia yang keren, tentu saja tentang teknik dia jajain jualannya.

Saya juga gak terlalu yakin orang ini pernah baca buku-bukunya Peter Drucker, Kotler, Roger Dooley, Ron Kaufamn atau Seth Godin.

Yang Sy yakin cara Bapak ini menjual baksonya beda dengan cara-cara tukang bakso pada umumnya, matching dengan prinsip-prinsip yang diajarkan maestro manajemen dan marketing.

BeAdaptive

Pertama, bapak penjual Bakso ini sangat paham dengan kondisi medan jualannya.

Stan makanan bakso, date dan lain-lain itu sebenarnya adanya di lokasi atas. Dekat kolam renang dan sepeda air.

Sedangkan tempat yang sejuk, banyak pepohonan dan taman bermain dan bangku buat leyeh-leyeh itu adanya di lokasi yang masih turun dulu lewat tangga ke bawah.

Dibawah situ memang ada dataran untuk taman yang cukup luas dengan mainan ayunan dan tempat nyantai tempat biasa keluarga ngumpul sambil ngeliatin krucil-krucil bermain. Jelas mereka yang udah duduk-duduk disana udah pasti pe-we lah. Gak mungkin lagi mau naik ke atas apalagi hanya sekedar untuk beli makanan or minuman.

Abang bakso ini liat kondisi ini sebagai peluang. Pelanggan yang malas untuk naik keatas adalah target market mereka yang sangat empuk.

Jadi ia tingalkan dagangannya diatas biasanya ada partnernya yang jagain.

Sedangkan ia turun sendirian ke bawah menjemput pelanggan.
Dengan berbekal pukulan tik-tok nya yang khas, si Bapak tukang bakso ini bergerilya mengelilingi satu bangku-kebangku yang lain.

Untuk ukuran beliau yang sekilas usianya 50 tahunan an lebih, beliau lumayan gesit. Gak heran kalau Bapak ini langsing, mungkin rute jalannya tiap hari udah panjang.

Apalagi pas momen-momen liburan, bakalan sering ini Bapak baik turun tangga nglayanin pengunjung.

Daripada bengong nungguin pelanggan datang ke stan baksonya diatas, sambil ngrumpi sama penjaga stan yang lain, Bapak ini sudah selangkah lebih maju dengan proaktif menjemput langsung pelanggannya. Berbekal tik-tok tik-tok nya itu.

Jelas ia akan banyak pengorbanan karena harus naik turun tangga buat ngelayanin pengunjung. Tapi ini jadi Unique Selling Proposition nya dia.

Dia jadi yang paling awal menjemput customers nya. Tapi apa yang ia dapat jelas lebih banyak dibanding pengunjung yang lain. Setengah jam saya duduk dibangku sini, paling tidak Sy melihat Bapak ini sudah mondar-mandir 5x lebih bawa nampan pesanan dan mangkok2 kosong.

BE THE FIRST TO SERVE THE MARKET

Kebayang gak misal satpam yang jagain komplek menyapa penghuni komplek yang motoran melewati pos jaga.

“Mari Pak..”

“Monggo Mas.. Eh.. mau kemana Mas koq tumben keluar malam-malam gini?”

“Nyari pulsa Pak buat paket data.. lagi butuh banget nih buat kirim tugas ke dosen”

“Ooh nyari pulsa toh Mas.. Ohh gak usah jauh-jauh Mas.. Sy juga jual pulsa koq”

“Wahh kebeneran Pak..gak perlu jauh-jauh nih”

Jika semua penghuni di perumahan tersebut akhirnya beralih beli pulsa ke dia, bisa dibayangkan, berapa duit konter-konter pulsa diluar perumahan yang akhirnya masuk ke kantong dia.

Meskipun sama-sama jualan pulsa, tapi si satpam ini sudah one step ahead dibanding konter-konter pulsa tadi.

Namun, sepintar-pintarnya Satpam mencegat duit lari ke konter lain, dia punya potensi kehilangan pasarnya dia juga diera digital ini. Siapa dia, para penjual konter pulsa di lapak digital. Di Bukalapak, Tokopedia, LINE, WA, BBM dan lain-lain.

Dan secepat-cepatnya mereka pelapak pulsa digital tadi, ada peluang juga tergusur aplikasi yang selalu connect dan engage dengan pelanggannya.

Aplikasi yang tau lebih dulu kapan pulsa pelanggan dan paket internetnya habis. Aplikasi yang dengan telaten mampu mengingatkan pelanggannya sisa pulsanya setiap mereka habis nelpon.

Aplikasi yang menjadi pihak pertama yang menawari pelanggan untuk mengisi pulsa dan paket data mereka, hanya dengan jempol mereka.

SIAPA YANG PALING CEPAT, DIALAH YANG AKAN JADI PEMENANGNYA

Di era digital seperti ini, banyak membuka peluang untuk menjadi yang tercepat untuk menjemput customers. Semakin ia didepan, maka ia punya peluang untuk merebut pelanggan dari statusquo.

Jangan heran kalau abang-abang ojek pangkalan yang pelanggannya lari semua ke GOJEK dan GRAB akirnya nyerah dan ikut-ikutan ngeGOJEK dan ngeGRAB.

Begitu juga taksi-taksi yang mau tak mau juga angkat tangan terhadap serbuan UBER dan GRAB. Di Singapura dan Malaysia, para supir taxi juga sudah lama melebur dengan UBER dan GRAB.

Digital era menciptakan banyak peluang. Namun juga akan berpotensi mengancam peluang-peluang eksisting.

Memang mau tidak mau kita harus beradaptasi dengan kondisi ini. Siapa yang paling mampu menyesuaikan dengan perubahan jaman, dialah yang bukan hanya bertahan tapi juga mampu mengambil keuntungan dari perubahan.

Jangan pernah melawan perubahan, namun rangkullah dan jadikan teman. Maka ia akan menciptakan banyak peluang untuk kita.

Change is not a threat, It’s an OPPORTUNITY. Survival is not the goal, trans-formative success is. -Seth godin-

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button